Sipirok, 11 Maret 2025. tepatnya di hari ke 11 berpuasa di bulan ramadan, seluruh jamaah shalar zuhur di mashalla Al-Mahkamah mendengarkan kultum yang disampaikan oleh bapak M. Adlika Ikhwan Nasution, S.H.I., M.H, dalam penyampaiaannya beliau mengatakan bukan penyampaian kultum, akan tetapi beliau mengatakan ini sekedar sharing ilmu. adapun tema yang dibawakan beliau yaitu Fadilah berpuasa di bulan Ramadan baik didunia dan ahirat. adapun di dunia padilah yang di dapat ialah memberikan kesehatan untuk jasmani, menghindarkan diri dari berbuat maksiat. dan di ahirat padilah yang didapat diantaranya beliau mengatakan akan mendapatkan surga yang bernama surga Ar-Rayyan: Allah SWT menyediakan pintu surga khusus bagi orang-orang yang berpuasa, yaitu pintu Ar-Rayyan. beliau juga mengajak seluruh jamaah shalat zuhur untuk berpuasa dan meningkatkan ibadah sunnah dan wajib selama bulan ramadan.
Senin, 10 Maret 2025 Kepala Kejaksaan Negeri Tapanuli Selatan Muhammad Indra Muda Nasution S.H.,M.H beserta rombongan berkunjung ke Kantor Pengadilan Agama Padangsidimpuan untuk silaturrahmi dengan Pimpinan Pengadilan Agama Padangsidimpuan sekaligus menjalin kerjasama terkait Peraturan Kejaksaan RI Nomor 7 Tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Tindakan Hukum Lain, Dan Pelayanan Hukum Di Bidang Perdata Dan Tata Usaha Negara, hasil dari pertemuan tersebut yakni Pengadilan Agama Padangsidimpuan dan Kejaksaan Negeri Tapanuli Selatan akan sama sama bersinergi untuk memberikan pelayanan hukum bagi masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan
Sipirok - Bulan Ramadan dibagi menjadi tiga fase yang masing-masing memiliki keutamaan tersendiri. Dalam sebuah kultum yang disampaikan oleh Bapak M. Iqbal, S.H.I di Mushalla Al-Mahkamah pada 10 Ramadan, beliau menjelaskan tentang keutamaan 10 hari pertama, kedua, dan terakhir di bulan Ramadan.
"Setiap fase di bulan Ramadan memiliki keistimewaan yang berbeda. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan setiap momen dengan sebaik-baiknya," ujar Bapak M. Iqbal, S.H.I.
Berikut adalah penjelasan mengenai keutamaan setiap fase:
- 10 Hari Pertama (Rahmat):
- Fase ini disebut sebagai fase rahmat, di mana Allah SWT melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.
- "Pada fase ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, seperti membaca Al-Qur'an, shalat malam, dan bersedekah," jelas Bapak M. Iqbal, S.H.I.
- 10 Hari Kedua (Maghfirah):
- Fase ini disebut sebagai fase maghfirah, di mana Allah SWT memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang bertaubat.
- "Pada fase ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampunan kepada Allah SWT," kata Bapak M. Iqbal, S.H.I.
- 10 Hari Terakhir (Itqun Minan Nar):
- Fase ini disebut sebagai fase itqun minan nar, di mana Allah SWT membebaskan hamba-Nya dari api neraka.
- "Pada fase ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, terutama di malam-malam ganjil, karena terdapat malam Lailatul Qadar," terang M. Iqbal, S.H.I.
Ustadz [Nama Ustadz] mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah di setiap fase Ramadan. "Mari kita manfaatkan setiap momen untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih ridha-Nya," pungkasnya.
Kultum ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan, serta meraih keutamaan di setiap fasenya.
Sipirok - Bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang mempererat tali silaturahmi antar sesama umat Muslim. Dalam sebuah kultum yang disampaikan oleh Bapak Muhammad Ansor, S.H di Mushalla A-Mahkamah pada 6 Ramadan 1446, beliau menekankan pentingnya memperkuat silaturahmi di bulan suci ini.
"Ramadan adalah momen yang tepat untuk saling memaafkan, mengunjungi kerabat, dan mempererat tali persaudaraan," ujar Bapak Muhammad Ansor, S.H.
Berikut adalah poin-poin penting yang disampaikan dalam kultum tersebut:
- Keutamaan Silaturahmi:
- Bapak Muhammad Ansor, S.H menjelaskan bahwa silaturahmi memiliki keutamaan yang besar dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.
- "Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, mari kita manfaatkan kesempatan untuk mempererat hubungan dengan keluarga, tetangga, dan teman-teman," ajak Bapak Muhammad Ansor, S.H.
- Momen Saling Memaafkan:
- Ramadan adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.
- "Dengan hati yang bersih dan lapang, mari kita saling memaafkan agar ibadah puasa kita semakin sempurna," kata Bapak Muhammad Ansor, S.H.
- Mengunjungi Kerabat dan Tetangga:
- Mengunjungi kerabat dan tetangga adalah salah satu cara untuk mempererat silaturahmi.
- "Luangkanlah waktu untuk mengunjungi mereka, berbagi kebahagiaan, dan memperkuat tali persaudaraan," imbau Bapak Muhammad Ansor, S.H.
- Berbagi Kebahagiaan:
- Bapak Muhammad Ansor, S.H juga mengajak jamaah untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
- "Dengan berbagi takjil, makanan, atau sedekah, kita dapat mempererat tali persaudaraan dan meraih berkah Ramadan yang berlimpah," jelasnya.
Bapak Muhammad Ansor, S.H berharap kultum ini dapat menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk senantiasa menjaga dan mempererat silaturahmi, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di hari-hari lainnya.
"Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua," pungkasnya.
Sipirok- Bulan Ramadan adalah kesempatan emas bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah, termasuk puasa. Dalam sebuah kultum yang disampaikan oleh Bapak Aulia Rahman, Lc di Mushalla Al-Mahkamah pada 5 Ramadan, dijelaskan mengenai tiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali.
"Puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang pengendalian diri dan peningkatan spiritual," ujar Ustadz Bapak Aulia Rahman.
Berikut adalah tiga tingkatan puasa yang dijelaskan dalam kultum tersebut:
-
Puasa Awam (Puasa Umum):
- Ini adalah tingkatan puasa yang paling dasar, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
- "Kebanyakan dari kita berada di tingkatan ini. Puasa ini sah secara hukum, tetapi belum mencapai hakikat puasa yang sebenarnya," jelas Bapak Aulia Rahman, Lc.
-
Puasa Khusus:
- Pada tingkatan ini, selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik, juga menjaga panca indera dari perbuatan dosa.
- "Kita menjaga pandangan, lisan, telinga, dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan maksiat," kata Bapak Aulia Rahman, Lc.
-
Puasa Khususul Khusus (Puasa Istimewa):
- Ini adalah tingkatan puasa yang paling tinggi, di mana hati sepenuhnya terhubung dengan Allah SWT.
- "Hati kita selalu dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah, serta selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya," terang Bapak Aulia Rahman, Lc.
Bapak Aulia Rahman, Lc mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan kualitas puasa di bulan Ramadan ini. "Mari kita berusaha untuk mencapai tingkatan puasa yang lebih tinggi, agar kita dapat meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT," pungkasnya.
Kultum ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk tidak hanya fokus pada aspek lahiriah puasa, tetapi juga pada aspek batiniahnya. Dengan demikian, puasa yang dijalankan dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan dunia dan akhirat.
